scriptDewa - What a hell!

Saturday, September 17, 2005

Script Naga Bonar Scene 17-23

1. EXT. DI PUNCAK BUKIT – SIANG
Teman – teman seperjuangan Nagabonar kelihatan tiarap, Lukman, Murad, Marjo, Bujang. Depan mereka kelihatan topi Nagabonar. Pelan – pelan Lukman bangkit. Ia mencari – cari kesekitarnya lalu berpaling pada Murad.

LUKMAN
Mana bang naga ?

Murad juga mencari – cari dengan matanya.

MURAD
Habis dia. Mana bisa dia tahan peluruh mortir.

Lukman berjongkok lalu berteriak

LUKMAN
Bang ! bang Naga !

Lalu kedengaran suara yang seperti disekap.

NAGABONAR
Sini !

LUKMAN
Abang dimana ?

NAGABONAR
Disini.

Mereka mencari – cari

MURAD
Dari mana suara itu.

BUJANG
Itu bukan suara dia. Suara Jin.

NAGABONAR
Nenek kau Jin. Awas kau Bujang.

Suara itu kelihatan keluar dari bawah topi.

BUJANG
Kasihan bang Naga. Begitulah kalaun kita sudah mati. Kata orang tua – tua ruh jadi kecil. Bisa masuk kebawah topi.

Lukman memberi isyarat pada Bujang. Bujang merangkak perlahan – lahan kearah topi itu lalu pelan – pelak dipegangnya topi itu. Tiba – tiba ia tarik. Dibawah topi itu kelihatan kepala Nagabonar. Mata mendelik – delik karena marah.

NAGABONAR
Monyet kalian !

LUKMAN (cepat beraksi)
Gali cepat !

2. EXT. STELING BELANDA – SIANG
Serdadu belandda menyusup diantara alang – alang menuju kebukit dimana Nagabonar tadi berdiri. Perwira Belanda tadi berdiri dibalik jeepnya meneropong kearah puncak bukit. Tiba – tiba dia berkata.

PERWIRA
God hij leeft nog.

Melalui teropong kelihatan Nagabonar sudah berdiri lagi di tempatnya yang tadi.
Sebuah peluruh mortir meletus dekat jeep perwira itu. Serdadu – serdadu Belanda mulai menembak. Dari pihak Nagabonar juga sudah terdengar tembakan. Pertempuran milai.


3. EXT. DIPUNCAK BUKIT – SIANG
Nagabonar memberi isyarat pada Bujang dan menunjuk kebagian puncak bukit itu yang paling depan. Bujang maju membawa sebuah bangku kecil menuju tempat itu. Peluru berjatuhan didekatnya. Begitu bangku itu ia latekkan ia segera malompat seperti orang yang mau menyelam untuk menyelamatkan diri. Dengan tenang Nagabonar menuju bangku itu dan mencaabut pistolnya lalu duduk diatas bangku itu. Ia menembakan satu pestol keatas.


4. EXT. PERTAHANAN BELANDA – SIANG
Perwira itu masih meneropong kearah Nagabonar.

PERWIRA
Hij is echt gek.

Tiba – tiba kedengaran bunti senapan mesin dari samping kiri konvoi Belanda. Tembakan itu datang dari pasukan Nagabonar yang maju kedepan. Perwira itu dan bawahannya bersembunyi.

PERWIRA
Zo gek is hij ook weer niet.

Belanda kucar – kacir dengan keuda pistolnya kearah serdadu Belanda yang tadi menyusup dan kini sudah mendekati posisinya. Ia menembak dengan santai sambil membacakan sajak Pohan.
Nagabonar seoalah – olah tidak menghiraukan hiruk pikuk disekitarnya.

NAGABONAR
Hai pemuda Indonesia bangkitlah kau semua. Negeri kita sudah merdeka

Lalu ia terhenti karena ia lupa.

NAGABONAR
Lukman

LUKMAN
Ya, bang.

NAGABONAR
Terusnya bagai mana ? Aku lupa.

LUKMAN
Terus apa bang ?

NAGABONAR
Sambungan sajak bang Pohan yang kubaca tadi.

LUKMAN
Bunyi morrtir sudah macam kentut abang masih tanya sajak.......

NAGABONAR
Suruh berhenti itu morrtir.

LUKMAN
Itu morrtir Belanda bang. Mana dia mau.

NAGABONAR
Ku bilang suruh berhenti.

Lukman bangkit lalu berteriak

LUKMAN
Berhenti !

Tiba – tiba semua tembakan berheenti.

NAGABONAR
Apa aku bilang. Coba kau bilang dulu....


LUKMAN
Gederang perang sudah berbunyi

NAGABONAR
Sudah. Aku tahu. Dengarkan panggilan ibu pertiwi ...... tembak!

Ia menembakan pistolnya lagi. Tapi pihak Belanda tidak menjawab.

NAGABONAR
Kanapa Belanda itu diam ?

Konvoi Belanda itu tiba – tiba memutar kendaraaan mereka dan berbalik arah dari mana mereka datang. Nagabonar memperhatikan tingkah laku tentara Belanda itu dengan pebuh rasa heran. Seorang pejuang datang berlari dan melapor.

PEJUANG
Ada kurir dari markas..

NAGABONAR
Mau apa dia ?

Seorang kurir berpakaian tentara resmi dengan tanda pengkat kopral mendekat.

Kurir itu memberikan laporannya.

KURIR
Ada perintah dari markas. Tembak – menembak harus dihentikan. Kita akan berunding dengan Belanda. Saudara Nagabonar haarap melapor kemarkas untuk menerima perintah mundur.

NAGABONAR
Mundur kemana ? kalau awak jatuh masuk laut macam mana ? lalu dimakan ikan. Sudah pernah kau dimakan ikan.

KURIR
Belum, tapi saudara harus mundur.

NAGABONAR
Tidak mau mundur. (lalu langsung ia memberi perintah pada pasukannya). Maju....


KURIR
Ini perintah mayor Pohan.

Mendengar mayor Pohan itu lalu Nagabonar berteriak.

NAGABONAR
Mundur!

5. EXT. DISALAH SSATU TEMPAT DIBUKIT – SIANG
Beberapa orang kelihatan kebingungan.

PEJUANG
Maju apa mundur ? aku dengar maju!

PEJUANG II
Aku dengar mundur.

6. EXT. PUNCAK BUKIT TEMPAT NAGABONAR – SIANG
Nagabonar bicara pada kurir itu

NAGABONAR
Kenapa tak kau bilang ini perintah mayor Pohan ? kalau bang Pohan bilang mundur ya mundur lah........

Kuriri itu memberi hormat lalu pergi.

NAGABONAR
Lukman. Coba kau pikir dulu, aku sudah tak mengeti lagi berunding – runding. Nica masuk juga.

Waktu itu kedengaran suara mortir tidak jauh dari tempat Nagabonar.

NAGABONAR
Siapa itu ?

Mereka meneropong kearah Belanda tapi konvoi Belanda itu sudah menjauh.

MURAD
Bukan Belanda!
(putar arah mortir cari sasaran).

Dua orang pejuang siap untuk menembakan mortir tapi dari kaki bukit yang berseberangan kedengaran teriakan.

SUARA (off)
Tunggu, tunggu.

Dua orang berlari menuju kearah Nagabonar.

LUKMAN ( waktu melihat kedua orang itu )
Anak buah si Mariam!

NAGABONAR
Mau apa kalian ? mauperang.

ANAK BUAH MARIAM
Tidak bang.

NAGABONAR
Lalu kenapa kami kalian tembak ?

ANAK BUAH MARIAM
Kami bukan mau menembak abang. Bang Mariam bilang. Tembak itu Belanda. Dia yang pasang mortir. Tapi yang kena abang.

NAGABONAR
Bagus kalian.

ANAK BUAH MARIAM
Cuma salah tembak bang.

NAGABONAR
Bilang sama si Mariam si tukang copet itu, kalau dia mau perang sama Nagabonar dia belajar menembak dulu. Bilang dia bukan pejuang, tapi perampok. Bilang sama dia bapaknya juga pencopet.

ANAK BUAH MARIAM
Katanya abang pencopet juga.

NAGABONAR
Ya, tapi aku bukan perampok. Aku seniman dan bapakku bukan pencopet seperti bapaknya. Makannyapun didapat bapaknya dengan mencopet isteri wak kandang. Bilang sama dia.

ANAK BUAH MARIAM
Anbang saja yang bilang. Habis kami mati dia bantai/

NAGABONAR
Jadi mau apa kalian ?

ANAK BUAH MARIAM
Kami masuk pasukaan abang saja. Tak yahan lagi ayam orang kampungpun dia rampok. Anak gadis orangpun tak ada yang aman dia buat.

NAGABONAR
Bagius, kalau kalian mau tinggal. Murad kasih orang ini makan.

MURAD
Disini tak ada makanan.

NAGABONAR
Kau cari, kalau tak ada kau suruh makan angin. Sekali makan harus makan.........

Dia melambaikan tangannya supaya kedua pejuang itu pergi.

NAGABONAR
Lukman, kau bantulah aku.

LUKMAN
Apa bang.

NAGABONAR
Coba kau berpikir keraslah. Kaukan anak HBS. Apa harus kubikin maju atau mundur ?

LUKMAN
Ah, abang kan sudah kubilang kalau bang Pohan suruh mundur ya mundur lah.

Nagabonar tersenyum

NAGABONARBetul kau betul....... (dia berteriak memberikan perintah). Mundur ........

Script Naga Bonar Scene 1-16

SEQUENCE 1

FADE IN

1. TRADE MARK

FADE OUT

FADE IN




2. EXT. SEBUAH POS PENJAGAAN TENTARA JEPANG DI MEDAN
–SIANG
Depan pos itu berdiri sebuah tiang bendera dan puncak tiang itu berkibar bendera jepang.

Adegan ini dimulai dengan adegan MS BENDERA Jepang berkibar di puncak tiang, lalu kamera pan down kebawah sambil zoom – out.
Di latar belakang kelihatan sebuah pos, depan pos itu berbaris empat serdadu Jepang yang siap untuk menggantikan penjaga yang berdiri depan sebuah rumah monyet.
Mereka memberikan aba-aba lalu berjalan berbaris menuju penjaga yang bersiri depan rumah monyet itu. Upacara penggantian kawal pun berlangsung sedangkan di latar depan kelihatan membelakangi dua orang laki-laki yang seorang Nagabonar dan yang seorang lagi Bujang.
Mereka menonton upacara genti kawal tentara Jepang itu.

Bujang:
Enak juga jadi serdadu bang. Makan dapat, rokok dapat. Kerja tak ada.

Nagabonar:
Siapa bilang ? kita lebih enak. Tak ada yang memerintah. Kalau mau prei makan sekali-sekali masuk penjara.

Bujang membalik. Lalu kelihatan mukanya yang kumal dan dahinya ditumbuhi janggut yang jarang karena tak pernah dicukur. Ia melihat kekiri-kekanan lalu berkata.





Bujang:
Banyak bendera merah putih bang.

Nagabonar membalik. Nagabonar juga kelihatan kumal dengan dagu tak dicukur. Ia menyandang kain sarung dan seperti Bujang bajunya juga kotor.
Setelah memperhatikan bendera merah putih yang banyak dipasang depan rumah penduduk ia berkata pada Bujang.

Nagabonar:
Hari besar rupanya.

Bujang:
Apa mungkin karena hari ini kita keluar penjara?

Nagabonar:
Tikus-tikus macam kita siapa pula yang peduli. Kita cari bang Pohan. Kalau dia tak tahu, tak ada lagi orang di Medan ini yang tahu.

Mereka berbalik lalu mulai berjalan.

3. EXT. SEBUAH JALAN DI MEDAN – SIANG
Bujang dan Nagabonar berjalan menyusuri jalan itu. Disana sini kelihatan orang berbaju karung. Dua orang perwira Jepang berpapasan dengan seorang perwira lainnya. Mereka saling membungkuk memberi hormat. Nagabonar berjalan di dekat perwira yang mengenakan arloji tangan dipergelangan kirinya. Kelihatan ia sedikit menyenggol perwira utu. Para perwira itu saling memberi hormat sementara Nagabonar dan Bujang sudah menjauh. Perwira-perwira itu berpisah. Tapi tiba-tiba yang seorang (yang tadi mengenakan arloji dipergelangan kirinya) berhenti lalu memperhatikan pergelangan kirinya dimana arloji itu tadi berada tapi sekarang tidak ada lagi.

Perwira 1:
Nani ka ?

Perwira itu tidak menjawab tapi cuma berbingung-bingung karena arlojinya lenyap begitu saja. Keduanya kemudian mencoba mencari arlojinya itu ditanah.






4. INT. SEBUAH KEDAI KOPI – SIANG
Lantai kedai kopi itu terbuat dari papan. Disebuah meja duduk Nagabonar, Pohan dan Lukman. Nurdin kelihatan asyik menulis disecerik kertas kecil sedangkan Lukman duduk termangu-mangu didepannya. Di hadapan mereka terletak dua buah gelas kopi yang agak kecoklat-coklatan warnanya. Lukman minum kopinya sambil mengernyitkan dahinya kaarena kopi tidak enak.

Lukman:
Kopi apa ini, Murad. Itulah kalau guru sekolah buka kedai kopi, mana lumpurpun ia tak tahu.

Murad:
Jangan banyak cakap kau Lukma. Air selokanpun kau minum.

Lukman:
Jangan begitulah, Murad. Biarpun buruk begini, aku ini anak HBS.

Nurdin Pohan selesai menulis. Sambil menarik nafas ia berkata

Pohan:
Selesai. Coba kau dengar.

Pohan mulai membaca sedangkan Lukman dan Murad Mendengarkan.

POHAN
Hai pemuda Indonesia, bangkitlah kau semua. Negeri kita sudah merdeka Genderang perang sudah berbunyi dengarkan panggilan ibu Pertiwi!

Pohan berhenti menbaca.

POHAN
Bagaimana ?

LUKMAN
Bagus !

Waktu itu masuk Nagabonar dan Bujang terus mendekati meja Pohan.

POHAN
Dari mana saja kalian ? Orang sudah mau perang.

NAGABONAR
Perang?

POHAN
Ya, kalau Belanda kembali lagi, kita lawan.

BUJANG
Tadi banyak bendera kulihat.

POHAN
Kemerdekaan Indonesia sudah diproklamasikan di Jakarta. Tidak tahu kailan ?

NAGABONAR
Biarlah kami baru istirahat.

LUKMAN
Beli rokok duliu bang. Sudah dua minggu tak berasap mulutku.

Nagabonar mengeluarkan sebuah arloji dari kantongnya (arloji yang tadi dipakai perwira Jepang).

NAGABONAR
Murad, berapa kau mau beli ?

Murad memperhatikan arloji itu sambil berkata.

MURAD
Murah ini harhanya .......

POHAN
Arloji siapa lagi yang kau copet ? rakyat ini sudah miskin, masih kau copet juga.

NAGABONAR
Ini arloji kapten Jepang.

LUKMAN
Punya Jepang ?

POHAN
Betul-betul hebat kau.

NAGABONAR
Siapa bilang Nagabonar tak hebat.

Tiba-tiba dia diam.

NAGABONAR
Jang, jang. Datang lagi dia Jang. Kaus kaki.

Bujang mengeluarkan sepasang kaus kaki putih yang sudah bolong ujungnya lalu memberikannya pada Nagabonar. Nagabonar mengenakan kaus itu.

BUJANG
Teh panas, teh panas.

NAGABONAR
Selimut Jang.

POHAN
Kenapa kau ?

NAGABONAR
Biasalah.

Tiba-tiba badan Nagabonar menggigil sejadi-jadinya. Ia berteriak.

NAGABONAR
Teh panas, teh panas.

Murad datang berlari membawa teh panas. Nagabonar berpegang ke meja sehingga meja itu ikut bergoyang. Sendok-sendok di tasnya bergemerincing dan gelas tumpah. Bujang juga ikut memegang maje itu supaya jangan bergoncang.

NAGABONAR
Jangan meja kau pegang. Dinding pegang. Nanti roboh dia meninggal awak.

Bujang memegang ting kedai kopi itu. Murad meminumkan teh panas. Nagabonar berhenti gemetar. Ia ..... keringatnya di kening.

POHAN
Kenapa kau ?

NAGABONAR
Sudah. Tak apa-apa lagi bang. Sudah lewat dia. Aku ini tak ubahnya ........ kereta Medan belawan. Asal lewat dia, rumah Mak si Bujang bergoyang.

POHAN
Kau sakit Naga ! kau harus kedokter.

NAGABONAR
Dokter mana pula yang dibayar tak mau.

POHAN
Kita kedokter Zulmi.

Mereka berdiri dan membawa Nagabonar, setelah Nagabonar membuka kausnya dan menyerahkannya pada Bujang.

Pohan menarik Nagabonar dan bersama dengan Lukman dan Bujang mereka pergi.

5. INT. KAMAR PRAKTEK DR. ZULMI – SIANG
Nagabonar berbaring diatas divan orang sakit, sedangkan Dr. Zulmi memperhatikan bagian dalam kelopak mata bawah Nagabonar.

DR. ZULMI
Malaria. NAGABONAR (pada Pohan) kan kau kubilang....

DR. ZULMI
Apa yang kamu bilang ?
kamu mesti diobat. Rumahmu dimana ?

NAGABONAR
Di Medan.

DR. ZULMI
Saya tahu di Medan

Ia memperhatikan Nagabonar sebentar lalu ia tersenyum.

DR. ZULMI
Kau sering kulihat dikawasan.
Kau kerja disana ?
Kalau kau takpunya rumah kau boleh tinggal disini dulu.

Ia berjalan kepintu lalu memanggil anaknya.

NAGABONAR
Tak usahlah.......

DR. ZULMI
Kirana !

Kirana masuk. Ia seorang gadis segar yang cantik.

KIRANA
Ya, pa.

DR. ZULMI]
Zeg evanan Amil opdat hij de actherkamer opruimt, ik heb een patient.......


KIRANA
Goed, pa.

Kirana memandang sebentar pada Nagabonar lalu keluar lagi.

DR. ZuLMI
Tunggu sebentar ya. Nanti anak saya akan mengurus kamu.

POHAN
Ongkosnya berapa dokter.

DR. ZULMI
Buat apa bicara ongkos. Mana kalian punya uang ?
Bagai mana kabar perkembangan politik Pohan ?

POHAN
Masa dokter masuh bertanya.

Dr. Zulmi itu keluar.

BUJANG
Barangkali dia mata-maata Belanda.

Dari luar kedengaran radio di bunyikan. Kirana msuk membawa segelas teh lalu mengangkat kepala Nagabonar dan meminumkan teh itu pada Nagabonar.

RADIO (off)
Disini radio republik Indonesia dengan warta berita.
6. INT. RUANG TENGAH RUMAH DR. ZULMI – SIANG
Dr. Zulmi berdiri dekat radio, dari dalam kamar praktek keluar Pohan bersama Lukman dan Bujang. Mereka berdiri mengitari radio.

CU RADIO
RADIO
Pasukan Inggris yang pertama-tama telah mendarat di tanjung priok. Ternyata kedatangan mereka diikuti oleh tentara Belanda. Semua ini memang telah diperkirakan. Pemerintah Indonesia akan mengajukan protes.

7. EXT. SEBUAH GEDUNG TUA – SIANG
Depan gedung itu kelihatan tiang bendera dipuncak tiang itu berkibar bendera Belanda. Sebuah bom meledak di halaman gedung tersebut hingga tiang bendera itu tercabut dan rebah.
Dilatar belakang terdengar komentar.

RADIO
Dimana-mana Belanda membuntuti tentara serikat yang mendarat lalu mulai melakukan provokasi-provokasi.

Api barkobar membakar gedung tua itu.

DISSOLVE INTO

8. EXT. JALAN RAYA – SIANG
Kelihatan pejuang-pejuang berlarian sambil menembak dan bersembunyi.

RADIO
Rakyat mengadakan perlawanan. Siapa saja yang sehat dan kuat, bersenjatakan apa saja, maju kegaris depan dengan tekad merdeka atau mati.

DISSOLVE INTO

9. EXT. SEMAK-SEMAK DIPINGGIR JALAN – SIANG
Kelihatan Nagabonar. Ia masih mengenakan pakaian yang baisa ia pakai. Dengan bersenjatakan pistol dan didampingi oleh Lukman dan Murad ia kelihatan memberi aba-aba pada pasukannya. Seorang pejuang melemparkan granat kearah konvoy Belanda yang lewat. Nagabonar kelihatan memberikan perintah dengan tangan kirinya.
Kelihatan pejuang-pejuangnya yang berada disebelah kiri maju sambil menembak dan berteriak.

PEJUANG
Merdeka, merdeka !

RADIO (off)
Pasukan rakyat yang didampingi oleh Nagaboner berhasil menghancurkan musuh.

DISSOLVE INTO

10. EXT. MARKAS PERJUANGAN – SIANG
Kelihatan beberapa orang digiring masuk markas itu.

RADIO (off)
Sementara itu digaris belakang diadakan pembersihan terhadap mata – mata musuh dan penghianat – penghianat.

DISSOLVE INTO



11. EXT. DEPAN RUMAH DR. ZULMI – SIANG
Pasukan rakyat yang kelihatan berwajah kejam dipimpin oleh Mariam mengepung rumah Dr. Zulmi.

RADIO (off)
Dr. Zulmi seorang dokter terkenal ternyata seorang penghianat. Pasukan rakyat dipimpin oleh meriam terlah mengepung rumah dokter penghianat itu. tapi mata – mata itu sidah melarikan diri ke kampung Nica.

Pejuang – pejuang Mariam mendobrak pintu lalu masuk kedalam rumah.

12. INT. RUMAH DR. ZULMI – SIANG
Pejuang – pejuang itu masuk lalu merusak segala yang ada didalam rumah. Beberapa orang mencopet barang – barang lepas yang ada diatas meja, seperti asbak dan sebagainya.
Mariam masuk. Diatas meja makan kelihatan beberapa potong roti dan beberapa potong keju. Mariam duduk dimeja makan. Ia makan roti.
Seorang pejuang datang melapor.

PEJUANG
Seluruh rumah sudah diperiksa. Kosong.

MARIAM
Anak perempuannya mana ?

PEJUANG
Tidak ada. Kudanya juga tidak ada.

Mariam kelihatan marah sekali. Ia memukul meja dengan tangannya. Kemudian ia membuka tangkep roti yang sedang ia makan lalu ia perlihatkan pada pejuang itu sambil berkata.

MARIAM
Kalian lihat. Keju ini bukti ia betul – betul mata – mata Belanda .....Pasti ada yang berkhianat. Siapa kiranya yang menculik anak perempuan itu ?

Pengikut – pengikutnya diam.

13. EXT. DAERAH BERBUKIT – BUKIT – SIANG
kelihatan Nagabonar lagi meneropong ke arah jalan. Sekarang penampilannya sudah lain. Ia memakai topi vilt yang pakai jambul. Dibagaian samping topi itu kelihatan sebuah kokarde merah purtih yang terbuat dari kain. Ia memakai kemeja lengan panjang. Pinggangnya diikiat dengan kain berwarna merah putih. Celananya dril dan kakinya kelihatan sepatu tinggi. Dipinggangnya terselip sebuah pedang semurai yang panjang. Dikiri kanan pinggangnya tergantung holster yang berisi pistol sedangkan dibahunya terselempang bandolir berisi peluru senapan mesin.

Disampingnya berdiri Lukman juga sudah mengenakan pakaian perjuangan. Begitu juga Murad dan seorang yang bernama Barjo serta Bujang. Disamping Bujang kelihatan sebuah bangku brendah sedangkan disamping Nagabonar ada sebuah senapan mesin.

Melalui teropong kelihatan iring – iringan konvoi Belanda.
Nagabonar memberi perintah.

NAGABONAR
Pasukan tank maju !

Lukman berteriak mengulangi perintah Nagabonar.

LUKMAN
Divisi tank maju !

14. EXT. DI BAGIAN LAIN BUKIT – BUKIT – SIANG
Kelihatan empat buah gerobak berisi batu – bati besar sudah disiapkan dilereng bukit. Beberpa orang pejuang mendorong gerobak – gerobak itu hingga meluncur menuruni lereng dengan cepat terus kejalan raya.

15. INT. JEEP BELANDA - SIANG
Diambil dari dalam jeep melalui kaca jeep. Kelihatan gerobak – gerobak itu menuruni lereng bukit lalu pecah di jalan hingga jalan tertutup. Dilatar depan kelihatan punggung dua orang tentara Belanda. Yang disebelah kanan rupanya seorang perwira. Ia mengangkat tangannya memberi tanda untuk berhenti.
Dari jeep itu kelihatan Nagabonar diatas bukit menaiki suatu tempat ketinggian dan berdiri memandang kearah konvoi Belanda itu sambil melipat tanganya di belakang (gaya napoleon).

PERWIRA
God daar is die geke vent weer.

TENTARA BELANDA (off)
Wie luitenant ?

PERWIRA BELANDA
Nagabonar !

Perwira itu melompat keluar.

16. EXT. SEBUAH JALAN SEKITAR PERBUKITAN – SIANG
Serdadu – serdadu Belanda berlompatan dari atas truk, bersiap – siap untuk melakukan serangan. Beberapa orang memasang mortir. Dari tempat mereka masih kelihatan Nagabonar berdiri ditempat tadi. Kedengaran perintah.

PERINTAH
Vuur !

Peluruh mortir itu meledak didepan Nagabonar. Debu membumbung keudara. Dan waktu debu itu sudah hilang, Nagabonar sudah tak kelihatan lagi.

PERWIRA BELANDA Weg Nagabonar ! Now, det is vlug geddan