Script Naga Bonar Scene 17-23
1. EXT. DI PUNCAK BUKIT – SIANG
Teman – teman seperjuangan Nagabonar kelihatan tiarap, Lukman, Murad, Marjo, Bujang. Depan mereka kelihatan topi Nagabonar. Pelan – pelan Lukman bangkit. Ia mencari – cari kesekitarnya lalu berpaling pada Murad.
LUKMAN
Mana bang naga ?
Murad juga mencari – cari dengan matanya.
MURAD
Habis dia. Mana bisa dia tahan peluruh mortir.
Lukman berjongkok lalu berteriak
LUKMAN
Bang ! bang Naga !
Lalu kedengaran suara yang seperti disekap.
NAGABONAR
Sini !
LUKMAN
Abang dimana ?
NAGABONAR
Disini.
Mereka mencari – cari
MURAD
Dari mana suara itu.
BUJANG
Itu bukan suara dia. Suara Jin.
NAGABONAR
Nenek kau Jin. Awas kau Bujang.
Suara itu kelihatan keluar dari bawah topi.
BUJANG
Kasihan bang Naga. Begitulah kalaun kita sudah mati. Kata orang tua – tua ruh jadi kecil. Bisa masuk kebawah topi.
Lukman memberi isyarat pada Bujang. Bujang merangkak perlahan – lahan kearah topi itu lalu pelan – pelak dipegangnya topi itu. Tiba – tiba ia tarik. Dibawah topi itu kelihatan kepala Nagabonar. Mata mendelik – delik karena marah.
NAGABONAR
Monyet kalian !
LUKMAN (cepat beraksi)
Gali cepat !
2. EXT. STELING BELANDA – SIANG
Serdadu belandda menyusup diantara alang – alang menuju kebukit dimana Nagabonar tadi berdiri. Perwira Belanda tadi berdiri dibalik jeepnya meneropong kearah puncak bukit. Tiba – tiba dia berkata.
PERWIRA
God hij leeft nog.
Melalui teropong kelihatan Nagabonar sudah berdiri lagi di tempatnya yang tadi.
Sebuah peluruh mortir meletus dekat jeep perwira itu. Serdadu – serdadu Belanda mulai menembak. Dari pihak Nagabonar juga sudah terdengar tembakan. Pertempuran milai.
3. EXT. DIPUNCAK BUKIT – SIANG
Nagabonar memberi isyarat pada Bujang dan menunjuk kebagian puncak bukit itu yang paling depan. Bujang maju membawa sebuah bangku kecil menuju tempat itu. Peluru berjatuhan didekatnya. Begitu bangku itu ia latekkan ia segera malompat seperti orang yang mau menyelam untuk menyelamatkan diri. Dengan tenang Nagabonar menuju bangku itu dan mencaabut pistolnya lalu duduk diatas bangku itu. Ia menembakan satu pestol keatas.
4. EXT. PERTAHANAN BELANDA – SIANG
Perwira itu masih meneropong kearah Nagabonar.
PERWIRA
Hij is echt gek.
Tiba – tiba kedengaran bunti senapan mesin dari samping kiri konvoi Belanda. Tembakan itu datang dari pasukan Nagabonar yang maju kedepan. Perwira itu dan bawahannya bersembunyi.
PERWIRA
Zo gek is hij ook weer niet.
Belanda kucar – kacir dengan keuda pistolnya kearah serdadu Belanda yang tadi menyusup dan kini sudah mendekati posisinya. Ia menembak dengan santai sambil membacakan sajak Pohan.
Nagabonar seoalah – olah tidak menghiraukan hiruk pikuk disekitarnya.
NAGABONAR
Hai pemuda Indonesia bangkitlah kau semua. Negeri kita sudah merdeka
Lalu ia terhenti karena ia lupa.
NAGABONAR
Lukman
LUKMAN
Ya, bang.
NAGABONAR
Terusnya bagai mana ? Aku lupa.
LUKMAN
Terus apa bang ?
NAGABONAR
Sambungan sajak bang Pohan yang kubaca tadi.
LUKMAN
Bunyi morrtir sudah macam kentut abang masih tanya sajak.......
NAGABONAR
Suruh berhenti itu morrtir.
LUKMAN
Itu morrtir Belanda bang. Mana dia mau.
NAGABONAR
Ku bilang suruh berhenti.
Lukman bangkit lalu berteriak
LUKMAN
Berhenti !
Tiba – tiba semua tembakan berheenti.
NAGABONAR
Apa aku bilang. Coba kau bilang dulu....
LUKMAN
Gederang perang sudah berbunyi
NAGABONAR
Sudah. Aku tahu. Dengarkan panggilan ibu pertiwi ...... tembak!
Ia menembakan pistolnya lagi. Tapi pihak Belanda tidak menjawab.
NAGABONAR
Kanapa Belanda itu diam ?
Konvoi Belanda itu tiba – tiba memutar kendaraaan mereka dan berbalik arah dari mana mereka datang. Nagabonar memperhatikan tingkah laku tentara Belanda itu dengan pebuh rasa heran. Seorang pejuang datang berlari dan melapor.
PEJUANG
Ada kurir dari markas..
NAGABONAR
Mau apa dia ?
Seorang kurir berpakaian tentara resmi dengan tanda pengkat kopral mendekat.
Kurir itu memberikan laporannya.
KURIR
Ada perintah dari markas. Tembak – menembak harus dihentikan. Kita akan berunding dengan Belanda. Saudara Nagabonar haarap melapor kemarkas untuk menerima perintah mundur.
NAGABONAR
Mundur kemana ? kalau awak jatuh masuk laut macam mana ? lalu dimakan ikan. Sudah pernah kau dimakan ikan.
KURIR
Belum, tapi saudara harus mundur.
NAGABONAR
Tidak mau mundur. (lalu langsung ia memberi perintah pada pasukannya). Maju....
KURIR
Ini perintah mayor Pohan.
Mendengar mayor Pohan itu lalu Nagabonar berteriak.
NAGABONAR
Mundur!
5. EXT. DISALAH SSATU TEMPAT DIBUKIT – SIANG
Beberapa orang kelihatan kebingungan.
PEJUANG
Maju apa mundur ? aku dengar maju!
PEJUANG II
Aku dengar mundur.
6. EXT. PUNCAK BUKIT TEMPAT NAGABONAR – SIANG
Nagabonar bicara pada kurir itu
NAGABONAR
Kenapa tak kau bilang ini perintah mayor Pohan ? kalau bang Pohan bilang mundur ya mundur lah........
Kuriri itu memberi hormat lalu pergi.
NAGABONAR
Lukman. Coba kau pikir dulu, aku sudah tak mengeti lagi berunding – runding. Nica masuk juga.
Waktu itu kedengaran suara mortir tidak jauh dari tempat Nagabonar.
NAGABONAR
Siapa itu ?
Mereka meneropong kearah Belanda tapi konvoi Belanda itu sudah menjauh.
MURAD
Bukan Belanda!
(putar arah mortir cari sasaran).
Dua orang pejuang siap untuk menembakan mortir tapi dari kaki bukit yang berseberangan kedengaran teriakan.
SUARA (off)
Tunggu, tunggu.
Dua orang berlari menuju kearah Nagabonar.
LUKMAN ( waktu melihat kedua orang itu )
Anak buah si Mariam!
NAGABONAR
Mau apa kalian ? mauperang.
ANAK BUAH MARIAM
Tidak bang.
NAGABONAR
Lalu kenapa kami kalian tembak ?
ANAK BUAH MARIAM
Kami bukan mau menembak abang. Bang Mariam bilang. Tembak itu Belanda. Dia yang pasang mortir. Tapi yang kena abang.
NAGABONAR
Bagus kalian.
ANAK BUAH MARIAM
Cuma salah tembak bang.
NAGABONAR
Bilang sama si Mariam si tukang copet itu, kalau dia mau perang sama Nagabonar dia belajar menembak dulu. Bilang dia bukan pejuang, tapi perampok. Bilang sama dia bapaknya juga pencopet.
ANAK BUAH MARIAM
Katanya abang pencopet juga.
NAGABONAR
Ya, tapi aku bukan perampok. Aku seniman dan bapakku bukan pencopet seperti bapaknya. Makannyapun didapat bapaknya dengan mencopet isteri wak kandang. Bilang sama dia.
ANAK BUAH MARIAM
Anbang saja yang bilang. Habis kami mati dia bantai/
NAGABONAR
Jadi mau apa kalian ?
ANAK BUAH MARIAM
Kami masuk pasukaan abang saja. Tak yahan lagi ayam orang kampungpun dia rampok. Anak gadis orangpun tak ada yang aman dia buat.
NAGABONAR
Bagius, kalau kalian mau tinggal. Murad kasih orang ini makan.
MURAD
Disini tak ada makanan.
NAGABONAR
Kau cari, kalau tak ada kau suruh makan angin. Sekali makan harus makan.........
Dia melambaikan tangannya supaya kedua pejuang itu pergi.
NAGABONAR
Lukman, kau bantulah aku.
LUKMAN
Apa bang.
NAGABONAR
Coba kau berpikir keraslah. Kaukan anak HBS. Apa harus kubikin maju atau mundur ?
LUKMAN
Ah, abang kan sudah kubilang kalau bang Pohan suruh mundur ya mundur lah.
Nagabonar tersenyum
NAGABONARBetul kau betul....... (dia berteriak memberikan perintah). Mundur ........
Teman – teman seperjuangan Nagabonar kelihatan tiarap, Lukman, Murad, Marjo, Bujang. Depan mereka kelihatan topi Nagabonar. Pelan – pelan Lukman bangkit. Ia mencari – cari kesekitarnya lalu berpaling pada Murad.
LUKMAN
Mana bang naga ?
Murad juga mencari – cari dengan matanya.
MURAD
Habis dia. Mana bisa dia tahan peluruh mortir.
Lukman berjongkok lalu berteriak
LUKMAN
Bang ! bang Naga !
Lalu kedengaran suara yang seperti disekap.
NAGABONAR
Sini !
LUKMAN
Abang dimana ?
NAGABONAR
Disini.
Mereka mencari – cari
MURAD
Dari mana suara itu.
BUJANG
Itu bukan suara dia. Suara Jin.
NAGABONAR
Nenek kau Jin. Awas kau Bujang.
Suara itu kelihatan keluar dari bawah topi.
BUJANG
Kasihan bang Naga. Begitulah kalaun kita sudah mati. Kata orang tua – tua ruh jadi kecil. Bisa masuk kebawah topi.
Lukman memberi isyarat pada Bujang. Bujang merangkak perlahan – lahan kearah topi itu lalu pelan – pelak dipegangnya topi itu. Tiba – tiba ia tarik. Dibawah topi itu kelihatan kepala Nagabonar. Mata mendelik – delik karena marah.
NAGABONAR
Monyet kalian !
LUKMAN (cepat beraksi)
Gali cepat !
2. EXT. STELING BELANDA – SIANG
Serdadu belandda menyusup diantara alang – alang menuju kebukit dimana Nagabonar tadi berdiri. Perwira Belanda tadi berdiri dibalik jeepnya meneropong kearah puncak bukit. Tiba – tiba dia berkata.
PERWIRA
God hij leeft nog.
Melalui teropong kelihatan Nagabonar sudah berdiri lagi di tempatnya yang tadi.
Sebuah peluruh mortir meletus dekat jeep perwira itu. Serdadu – serdadu Belanda mulai menembak. Dari pihak Nagabonar juga sudah terdengar tembakan. Pertempuran milai.
3. EXT. DIPUNCAK BUKIT – SIANG
Nagabonar memberi isyarat pada Bujang dan menunjuk kebagian puncak bukit itu yang paling depan. Bujang maju membawa sebuah bangku kecil menuju tempat itu. Peluru berjatuhan didekatnya. Begitu bangku itu ia latekkan ia segera malompat seperti orang yang mau menyelam untuk menyelamatkan diri. Dengan tenang Nagabonar menuju bangku itu dan mencaabut pistolnya lalu duduk diatas bangku itu. Ia menembakan satu pestol keatas.
4. EXT. PERTAHANAN BELANDA – SIANG
Perwira itu masih meneropong kearah Nagabonar.
PERWIRA
Hij is echt gek.
Tiba – tiba kedengaran bunti senapan mesin dari samping kiri konvoi Belanda. Tembakan itu datang dari pasukan Nagabonar yang maju kedepan. Perwira itu dan bawahannya bersembunyi.
PERWIRA
Zo gek is hij ook weer niet.
Belanda kucar – kacir dengan keuda pistolnya kearah serdadu Belanda yang tadi menyusup dan kini sudah mendekati posisinya. Ia menembak dengan santai sambil membacakan sajak Pohan.
Nagabonar seoalah – olah tidak menghiraukan hiruk pikuk disekitarnya.
NAGABONAR
Hai pemuda Indonesia bangkitlah kau semua. Negeri kita sudah merdeka
Lalu ia terhenti karena ia lupa.
NAGABONAR
Lukman
LUKMAN
Ya, bang.
NAGABONAR
Terusnya bagai mana ? Aku lupa.
LUKMAN
Terus apa bang ?
NAGABONAR
Sambungan sajak bang Pohan yang kubaca tadi.
LUKMAN
Bunyi morrtir sudah macam kentut abang masih tanya sajak.......
NAGABONAR
Suruh berhenti itu morrtir.
LUKMAN
Itu morrtir Belanda bang. Mana dia mau.
NAGABONAR
Ku bilang suruh berhenti.
Lukman bangkit lalu berteriak
LUKMAN
Berhenti !
Tiba – tiba semua tembakan berheenti.
NAGABONAR
Apa aku bilang. Coba kau bilang dulu....
LUKMAN
Gederang perang sudah berbunyi
NAGABONAR
Sudah. Aku tahu. Dengarkan panggilan ibu pertiwi ...... tembak!
Ia menembakan pistolnya lagi. Tapi pihak Belanda tidak menjawab.
NAGABONAR
Kanapa Belanda itu diam ?
Konvoi Belanda itu tiba – tiba memutar kendaraaan mereka dan berbalik arah dari mana mereka datang. Nagabonar memperhatikan tingkah laku tentara Belanda itu dengan pebuh rasa heran. Seorang pejuang datang berlari dan melapor.
PEJUANG
Ada kurir dari markas..
NAGABONAR
Mau apa dia ?
Seorang kurir berpakaian tentara resmi dengan tanda pengkat kopral mendekat.
Kurir itu memberikan laporannya.
KURIR
Ada perintah dari markas. Tembak – menembak harus dihentikan. Kita akan berunding dengan Belanda. Saudara Nagabonar haarap melapor kemarkas untuk menerima perintah mundur.
NAGABONAR
Mundur kemana ? kalau awak jatuh masuk laut macam mana ? lalu dimakan ikan. Sudah pernah kau dimakan ikan.
KURIR
Belum, tapi saudara harus mundur.
NAGABONAR
Tidak mau mundur. (lalu langsung ia memberi perintah pada pasukannya). Maju....
KURIR
Ini perintah mayor Pohan.
Mendengar mayor Pohan itu lalu Nagabonar berteriak.
NAGABONAR
Mundur!
5. EXT. DISALAH SSATU TEMPAT DIBUKIT – SIANG
Beberapa orang kelihatan kebingungan.
PEJUANG
Maju apa mundur ? aku dengar maju!
PEJUANG II
Aku dengar mundur.
6. EXT. PUNCAK BUKIT TEMPAT NAGABONAR – SIANG
Nagabonar bicara pada kurir itu
NAGABONAR
Kenapa tak kau bilang ini perintah mayor Pohan ? kalau bang Pohan bilang mundur ya mundur lah........
Kuriri itu memberi hormat lalu pergi.
NAGABONAR
Lukman. Coba kau pikir dulu, aku sudah tak mengeti lagi berunding – runding. Nica masuk juga.
Waktu itu kedengaran suara mortir tidak jauh dari tempat Nagabonar.
NAGABONAR
Siapa itu ?
Mereka meneropong kearah Belanda tapi konvoi Belanda itu sudah menjauh.
MURAD
Bukan Belanda!
(putar arah mortir cari sasaran).
Dua orang pejuang siap untuk menembakan mortir tapi dari kaki bukit yang berseberangan kedengaran teriakan.
SUARA (off)
Tunggu, tunggu.
Dua orang berlari menuju kearah Nagabonar.
LUKMAN ( waktu melihat kedua orang itu )
Anak buah si Mariam!
NAGABONAR
Mau apa kalian ? mauperang.
ANAK BUAH MARIAM
Tidak bang.
NAGABONAR
Lalu kenapa kami kalian tembak ?
ANAK BUAH MARIAM
Kami bukan mau menembak abang. Bang Mariam bilang. Tembak itu Belanda. Dia yang pasang mortir. Tapi yang kena abang.
NAGABONAR
Bagus kalian.
ANAK BUAH MARIAM
Cuma salah tembak bang.
NAGABONAR
Bilang sama si Mariam si tukang copet itu, kalau dia mau perang sama Nagabonar dia belajar menembak dulu. Bilang dia bukan pejuang, tapi perampok. Bilang sama dia bapaknya juga pencopet.
ANAK BUAH MARIAM
Katanya abang pencopet juga.
NAGABONAR
Ya, tapi aku bukan perampok. Aku seniman dan bapakku bukan pencopet seperti bapaknya. Makannyapun didapat bapaknya dengan mencopet isteri wak kandang. Bilang sama dia.
ANAK BUAH MARIAM
Anbang saja yang bilang. Habis kami mati dia bantai/
NAGABONAR
Jadi mau apa kalian ?
ANAK BUAH MARIAM
Kami masuk pasukaan abang saja. Tak yahan lagi ayam orang kampungpun dia rampok. Anak gadis orangpun tak ada yang aman dia buat.
NAGABONAR
Bagius, kalau kalian mau tinggal. Murad kasih orang ini makan.
MURAD
Disini tak ada makanan.
NAGABONAR
Kau cari, kalau tak ada kau suruh makan angin. Sekali makan harus makan.........
Dia melambaikan tangannya supaya kedua pejuang itu pergi.
NAGABONAR
Lukman, kau bantulah aku.
LUKMAN
Apa bang.
NAGABONAR
Coba kau berpikir keraslah. Kaukan anak HBS. Apa harus kubikin maju atau mundur ?
LUKMAN
Ah, abang kan sudah kubilang kalau bang Pohan suruh mundur ya mundur lah.
Nagabonar tersenyum
NAGABONARBetul kau betul....... (dia berteriak memberikan perintah). Mundur ........
